Tak terasa, tahun telah berganti. Petasan, tiupan terompet, bau sate, dan tragedi mewarnai pergantian tahun ini. Ya, 2014 telah berakhir, dan 2015 akan kita lalui.
Bagi sebagian Bonek, pergantian tahun berarti bukti akan kesetiaan. Kesetiaan akan apa? Kesetiaan akan cinta. Lalu, apakah cinta selalu membutuhkan kesetiaan? Jawabannya relatif bagi setiap orang. Tapi bagi Bonek, kesetiaan adalah perwujudan tulus dari cinta. Cinta pada apa? Tentu saja cinta pada Persebaya (1927).
Di tahun 2015 ini, cobaan akan kesetiaan itu, tentu akan sulit. Bagaimana tidak, Persebaya (1927) telah mati suri dan entah kapan akan bangkit lagi. Di sisi yang lain, klub dengan nama yang sama namun dengn spirit yang tak serupa, terus membenahi diri, dan merekrut mantan pemain Persebaya (1927). Belum lagi, akan hinaan dan cacian dari mereka yang tak menyukai kesetiaan ini.
Meskipuh begitu, saya yakin masih banyak Bonek yang menunjukkan kesetiaan sampai dengan masa yang akan datang. Waktu telah membuktikan, bertahun-tahun Bonek telah menunjukkan rasa cintanya. Begitu agung, karena yang mereka cintai sekarang telah tiada. Namun, kecintaan itu tidak pudar, dan sekarang berwujud sebagai kesetiaan.
Rezim PSSI mungkin tak akan tumbang, tapi mereka akan selalu bergetar ketika mendengar tentang perlawanan. Di 2015 ini, genap sudah 5 (lima) tahun Bonek melawan. Sebuah waktu yang lama, dan sudah banyak menghabiskan materi, tenaga dan air mata. Ujung dari perlawanan itu, memang belum terlihat, tapi Bonek patut berbangga, karena perlawanan pada ketidakadilan dan pendzoliman tidak semua bisa melakukan.
Karena itu, di awal 2015 ini mari kita rayakan Perlawanan!!!
Jakarta, 00.15 WIB, 1 Januari 2015.
@andhi667
Urip iku Urup
Rabu, 31 Desember 2014
Selasa, 30 Desember 2014
BONEK : Terdakwa tanpa Pledoi
Dalam beberapa hari ini Bonek kembali menjadi sorotan di hampir
seluruh media informasi, mulai dari media elektronik hingga media cetak.
Media tersebut, ramai memberitakan tragedi Lamongan yang ‘katanya’
dipicu oleh Bonek. Yang tentu saja, seluruh masyarakat yang melihat atau
membaca berita tersebut, langsung menghakimi Bonek adalah biang
kerusuhan.
Saya kira Bonek-pun tidak berkehendak akan timbul tragedi tersebut. Keberangkatan Bonek ke Tangerang murni akan rasa cinta pada Persebaya, Bonek bukanlah suporter yang harus dikoordinir untuk melakukan lawatan away, kecintaan terhadap Persebaya-lah yang mendorong tiap individu itu datang dan akhirnya berkumpul dalam serangkaian kereta menuju Jakarta. Begitu indah, begitu egaliter karena tak ada yang memimpin atau dipimpin, semuanya karena panggilan hati. Apalagi lawatan ke Tangerang sudah cukup lama tidak dilakukan Bonek (Seingat Penulis terakhir tahun 2003), yang membuat ribuan Bonek terkonsentrasi menuju Tangerang. Mungkin kalopun tragedi Lamongan ini terjadi, yang patut diketahui oleh public adalah ini murni dari perseteruan antara LA Mania dan Bonek yang sudah begitu lama terpendam. Bukan Warga melawan Bonek.
Entah siapa yang memulai, faktanya memang telah ada 2 korban dari Suporter LA Mania (bukan warga biasa). Tapi yang patut menjadi catatan adalah hampir setiap tahun dan waktu ketika Bonek mengadakan tour melewati Jalur Utara yang tentu saja melewati Kota Lamongan selalu terjadi sweeping oleh LA Mania pada kereta api yang ditumpangi Bonek, dan kejadian itu terus berulang dari waktu ke waktu. Yang jadi pertanyaan adalah, apa hak LA Mania mensweeping dan menurunkan Bonek yang hendak melakukan tour ke luar kota. Tidak ada bukti jika Bonek yang disweeping dan diturunkan adalah pelaku pengrusakan di Lamongan, jika pun terbukti hal tersebut adalah wewenang dari Kepolisian. Sangat disayangkan Kepolisian pun seakan tutup mata terhadap kejadian tersebut, harusnya jika memang melakukan Razia cukup dari aparat Kepolisian saja tanpa melibatkan warga sipil karena hal tersebut malah berpotensi memicu insiden bentrokan dan kebencian. Jadi semua ini sebenarnya adalah rangkaian peristiwa, yang terus berakumulasi dan puncaknya pada kejadian beberapa hari yang lalu.
Apapun alasannya, sebenarnya aksi kekerasan yang dilakukan oleh Bonek tersebut tidak bisa dibenarkan. Aksi kekerasan tetaplah sebuah tindakan Kriminal yang mempunyai konsekuensi di mata Hukum. Aksi kekerasan hanya menodai upaya keras Bonek untuk mengubah citranya yang negatif selama ini, apalagi media massa begitu sensitif terhadap pemberitaan Bonek. Dan yang dikhawatirkan terjadi, media massa dengan segera memberitakan bahwa Bonek melakukan tindakan brutal dalam perjalanannya menuju Tangerang, tanpa mengindahkan etika jurnalisme yang harusnya melihat dari dua sisi yang berimbang dan tidak bias dalam pemberitaan. Tentu saja dari pemberitaan tersebut, opini public langsung tergiring bahwa Bonek telah berbuat onar di Lamongan, dan hal ini memicu warga yang tak tau apa-apa untuk ikut ‘menyambut’ Bonek yang pulang dari Tangerang.
Dari pemberitaan media massa yang terus menyudutkan Bonek, menjadikan Bonek menjadi terdakwa di Negeri ini, tetapi sayangnya Bonek adalah terdakwa tanpa pledoi. Stigmatisasi negatif masyarakat kepada Bonek semakin menguat.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa paradigma masyarakat umumnya menganggap Bonek adalah “Biang Kerusuhan”, hal ini juga tak lepas dari stigmatisasi Media Informasi yang mencitrakan hal tersebut. Memang Bonek pernah berbuat rusuh, tetapi yang perlu diingat adalah kerusuhan dalam sepak bola Indonesia tidak hanya dimonopoli oleh Bonek. Hampir seluruh elemen Suporter di Indonesia pernah berbuat rusuh, bahkan oleh kelompok suporter yang dianggap terbaik sekalipun. Entah itu dalam bentuk terkecil seperti melempar benda-benda keras ke lapangan sampai dengan bentrokan antar suporter yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Dan ironisnya, sekecil apapun tindakan bonek, hal ini langsung menjadi santapan empuk media dalam pemberitaan.
Media massa pun sepertinya menikmati nuansa Bonek yang penuh dengan kekerasan daripada melihat Bonek dari sisi yang lebih santun. Kemajuan yang diperlihatkan Bonek dalam pendewasaan kelihatannya tidak menarik bagi media yang memang lebih menyukai berita yang sensasional. “Bad news is good news” tetap menjadi tolok ukur media massa. Spirit sportivitas dan penerimaan terhadap hasil akhir yang ditunjukkan bonek pun tidak menarik bagi media massa. Di musim lalu, dua kali kekalahan di kandang sendiri, dari Persipura Jayapura dan Persik Kediri dan tidak terjadi kerusuhan apapun merupakan kemajuan yang patut dipuji dari Bonek.
Sangat patut disayangkan, stigmatisasi dan kriminalisasi terhadap Bonek yang dilakukan media informasi itulah yang sebenarnya juga semakin memperburuk attitude Bonek. Bagi bonek muda performa penuh kekerasan dan brutalisme dianggap sebagai ‘kebenaran’, dan bagi Bonek senior performa penuh kesantunan yang pernah ditunjukkan seolah lenyap begitu saja oleh pemberitaan media, hingga mereka berpikir berbuat baik atau tidak-pun toh media dan masyarakat tetap mengecap Bonek sebagai “bad boys”. Seolah-olah Bonek memang telah menjadi korban dari sebuah teori strukturalisme yang membutuhkan kelompok berpredikat 'bad boys' (anak nakal) untuk menentukan kelompok berpredikat 'good boys' (anak baik). Dan ironisnya, Bonek-lah yang ketiban sampur untuk diberi predikat sebagai “bad boys”.
Stigmatisasi dari media juga yang membuat banyak Bonek menjadi antipati pada Media. Tapi saya berharap, tak usahlah Bonek memusuhi media, tapi tunjukkan pada semua Media Informasi bahwa Bonek adalah supporter yang santun dan selalu berupaya, mempunyai itikad dan keinginan untuk menjadi lebih baik. Apa yang sudah dicapai, dengan segala kekurangannya. Bonek tak pernah berharap untuk diberi predikat terbaik, menjadi lebih baik itu lebih dari cukup.
Mari jadikan Tragedi ini, sebagai sebuah pembelajaran. Bahwa semangat Bonek yang egaliter, yang datang karena kecintaan terhadap Persebaya ternyata juga mempunyai sedikit kelemahan. Kelemahan itu ada pada koordinasi. Jangan sampai, karena ulah beberapa orang semuanya ikut terlibat dan merasakan getahnya.
Memang sudah saatnya Bonek menata ulang spiritnya, sudah waktunya Bonek menjadi satu entitas tunggal dalam satu payung organisasi. Satu payung lebih mempermudah dalam hal koordinasi, konsolidasi, edukasi, bahkan mungkin advokasi pada Bonek yang tertimpa masalah hukum. Tour away juga lebih bisa tertata, sehingga ekses-ekses negatif yang berpotensi muncul saat tour bisa diminimalisir. Manajemen Klub Persebaya pun harusnya juga mulai perduli dengan supporter, karena bagaimanapun juga baik dan buruknya supporter juga turut berperan dalam baik dan buruknya nama Klub. Suporter adalah spirit, jangan hanya pandang supporter sebagai konsumen belaka, tetapi rangkullah supporter sebagai keluarga.
STOP KEKERASAN DAN DAMAILAH SUPORTER INDONESIA
Pernah dimuat di Tabloid Bola
@andhi667
Saya kira Bonek-pun tidak berkehendak akan timbul tragedi tersebut. Keberangkatan Bonek ke Tangerang murni akan rasa cinta pada Persebaya, Bonek bukanlah suporter yang harus dikoordinir untuk melakukan lawatan away, kecintaan terhadap Persebaya-lah yang mendorong tiap individu itu datang dan akhirnya berkumpul dalam serangkaian kereta menuju Jakarta. Begitu indah, begitu egaliter karena tak ada yang memimpin atau dipimpin, semuanya karena panggilan hati. Apalagi lawatan ke Tangerang sudah cukup lama tidak dilakukan Bonek (Seingat Penulis terakhir tahun 2003), yang membuat ribuan Bonek terkonsentrasi menuju Tangerang. Mungkin kalopun tragedi Lamongan ini terjadi, yang patut diketahui oleh public adalah ini murni dari perseteruan antara LA Mania dan Bonek yang sudah begitu lama terpendam. Bukan Warga melawan Bonek.
Entah siapa yang memulai, faktanya memang telah ada 2 korban dari Suporter LA Mania (bukan warga biasa). Tapi yang patut menjadi catatan adalah hampir setiap tahun dan waktu ketika Bonek mengadakan tour melewati Jalur Utara yang tentu saja melewati Kota Lamongan selalu terjadi sweeping oleh LA Mania pada kereta api yang ditumpangi Bonek, dan kejadian itu terus berulang dari waktu ke waktu. Yang jadi pertanyaan adalah, apa hak LA Mania mensweeping dan menurunkan Bonek yang hendak melakukan tour ke luar kota. Tidak ada bukti jika Bonek yang disweeping dan diturunkan adalah pelaku pengrusakan di Lamongan, jika pun terbukti hal tersebut adalah wewenang dari Kepolisian. Sangat disayangkan Kepolisian pun seakan tutup mata terhadap kejadian tersebut, harusnya jika memang melakukan Razia cukup dari aparat Kepolisian saja tanpa melibatkan warga sipil karena hal tersebut malah berpotensi memicu insiden bentrokan dan kebencian. Jadi semua ini sebenarnya adalah rangkaian peristiwa, yang terus berakumulasi dan puncaknya pada kejadian beberapa hari yang lalu.
Apapun alasannya, sebenarnya aksi kekerasan yang dilakukan oleh Bonek tersebut tidak bisa dibenarkan. Aksi kekerasan tetaplah sebuah tindakan Kriminal yang mempunyai konsekuensi di mata Hukum. Aksi kekerasan hanya menodai upaya keras Bonek untuk mengubah citranya yang negatif selama ini, apalagi media massa begitu sensitif terhadap pemberitaan Bonek. Dan yang dikhawatirkan terjadi, media massa dengan segera memberitakan bahwa Bonek melakukan tindakan brutal dalam perjalanannya menuju Tangerang, tanpa mengindahkan etika jurnalisme yang harusnya melihat dari dua sisi yang berimbang dan tidak bias dalam pemberitaan. Tentu saja dari pemberitaan tersebut, opini public langsung tergiring bahwa Bonek telah berbuat onar di Lamongan, dan hal ini memicu warga yang tak tau apa-apa untuk ikut ‘menyambut’ Bonek yang pulang dari Tangerang.
Dari pemberitaan media massa yang terus menyudutkan Bonek, menjadikan Bonek menjadi terdakwa di Negeri ini, tetapi sayangnya Bonek adalah terdakwa tanpa pledoi. Stigmatisasi negatif masyarakat kepada Bonek semakin menguat.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa paradigma masyarakat umumnya menganggap Bonek adalah “Biang Kerusuhan”, hal ini juga tak lepas dari stigmatisasi Media Informasi yang mencitrakan hal tersebut. Memang Bonek pernah berbuat rusuh, tetapi yang perlu diingat adalah kerusuhan dalam sepak bola Indonesia tidak hanya dimonopoli oleh Bonek. Hampir seluruh elemen Suporter di Indonesia pernah berbuat rusuh, bahkan oleh kelompok suporter yang dianggap terbaik sekalipun. Entah itu dalam bentuk terkecil seperti melempar benda-benda keras ke lapangan sampai dengan bentrokan antar suporter yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Dan ironisnya, sekecil apapun tindakan bonek, hal ini langsung menjadi santapan empuk media dalam pemberitaan.
Media massa pun sepertinya menikmati nuansa Bonek yang penuh dengan kekerasan daripada melihat Bonek dari sisi yang lebih santun. Kemajuan yang diperlihatkan Bonek dalam pendewasaan kelihatannya tidak menarik bagi media yang memang lebih menyukai berita yang sensasional. “Bad news is good news” tetap menjadi tolok ukur media massa. Spirit sportivitas dan penerimaan terhadap hasil akhir yang ditunjukkan bonek pun tidak menarik bagi media massa. Di musim lalu, dua kali kekalahan di kandang sendiri, dari Persipura Jayapura dan Persik Kediri dan tidak terjadi kerusuhan apapun merupakan kemajuan yang patut dipuji dari Bonek.
Sangat patut disayangkan, stigmatisasi dan kriminalisasi terhadap Bonek yang dilakukan media informasi itulah yang sebenarnya juga semakin memperburuk attitude Bonek. Bagi bonek muda performa penuh kekerasan dan brutalisme dianggap sebagai ‘kebenaran’, dan bagi Bonek senior performa penuh kesantunan yang pernah ditunjukkan seolah lenyap begitu saja oleh pemberitaan media, hingga mereka berpikir berbuat baik atau tidak-pun toh media dan masyarakat tetap mengecap Bonek sebagai “bad boys”. Seolah-olah Bonek memang telah menjadi korban dari sebuah teori strukturalisme yang membutuhkan kelompok berpredikat 'bad boys' (anak nakal) untuk menentukan kelompok berpredikat 'good boys' (anak baik). Dan ironisnya, Bonek-lah yang ketiban sampur untuk diberi predikat sebagai “bad boys”.
Stigmatisasi dari media juga yang membuat banyak Bonek menjadi antipati pada Media. Tapi saya berharap, tak usahlah Bonek memusuhi media, tapi tunjukkan pada semua Media Informasi bahwa Bonek adalah supporter yang santun dan selalu berupaya, mempunyai itikad dan keinginan untuk menjadi lebih baik. Apa yang sudah dicapai, dengan segala kekurangannya. Bonek tak pernah berharap untuk diberi predikat terbaik, menjadi lebih baik itu lebih dari cukup.
Mari jadikan Tragedi ini, sebagai sebuah pembelajaran. Bahwa semangat Bonek yang egaliter, yang datang karena kecintaan terhadap Persebaya ternyata juga mempunyai sedikit kelemahan. Kelemahan itu ada pada koordinasi. Jangan sampai, karena ulah beberapa orang semuanya ikut terlibat dan merasakan getahnya.
Memang sudah saatnya Bonek menata ulang spiritnya, sudah waktunya Bonek menjadi satu entitas tunggal dalam satu payung organisasi. Satu payung lebih mempermudah dalam hal koordinasi, konsolidasi, edukasi, bahkan mungkin advokasi pada Bonek yang tertimpa masalah hukum. Tour away juga lebih bisa tertata, sehingga ekses-ekses negatif yang berpotensi muncul saat tour bisa diminimalisir. Manajemen Klub Persebaya pun harusnya juga mulai perduli dengan supporter, karena bagaimanapun juga baik dan buruknya supporter juga turut berperan dalam baik dan buruknya nama Klub. Suporter adalah spirit, jangan hanya pandang supporter sebagai konsumen belaka, tetapi rangkullah supporter sebagai keluarga.
STOP KEKERASAN DAN DAMAILAH SUPORTER INDONESIA
Pernah dimuat di Tabloid Bola
@andhi667
Ketika Sepakbola Ibarat Partai Politik
Dimuat di harian Surya, 4 April 2013
oleh : Andhi Mahligai
@andhi667
oleh : Andhi Mahligai
Di
negeri seperti Indonesia, nasib klub sepakbola tak ubahnya nasib partai
politik. Apa yang terjadi pada Persebaya hari ini mengingatkan dengan
apa yang terjadi pada PDI Perjuangan di era Orde Baru.
Pada saat Orde Baru berkuasa, intervensi politik penguasa sangat kuat dalam kehidupan Partai Politik. Partai Politik dan klub sepakbola jelas sangat berbeda. Namun di Indonesia, intervensi terhadap partai dan klub sepakbola oleh tangan-tangan politik bisa serupa.
Kita tentu masih ingat bagaimana Partai Demokrasi Indonesia yang dipimpin Megawati Sukarnoputri tidak diakui oleh pemerintah Orde Baru. Pemerintah Orde Baru hanya mengakui PDI yang diketuai Suryadi. Karena itu, PDI yang dipimpin Megawati tidak berhak untuk ikut kompetisi liga politik bernama pemilu 1997.
Namun PDI yang dipimpin Megawati tidak menyerah dan terus berjuang. Saat itu simpatisan, kader, dan pengurus PDI Megawati kompak untuk memboikot PDI yang dipimpin oleh Suryadi. Bahkan ada gerakan politik yang merupakan inisiatif akar rumput PDI Megawati yang populer dengan sebutan Mega Bintang, dimana para simpatisan PDI Megawati mengalihkan dukungan pada Partai Persatuan Pembangunan. Alhasil, PDI Suryadi tak mendapat dukungan politik yang akhirnya kalah telak pada Pemilu 1997. Semua Massa PDI bisa membedakan mana partai sejati dan mana partai buatan pemerintah.
Tak ada yang abadi, rezim Orde Baru akhirnya runtuh. Dengan dibukanya sistem kepartaian yang lebih terbuka di Pemilu 1999, PDI pimpinan Megawati akhirnya ikut pemilu. Namun, PDI pimpinan Megawati pun terpaksa mengubah nama partainya menjadi PDI Perjuangan untuk membedakan dengan PDI buatan pemerintah. Akhirnya pada Pemilu 1999 PDI Perjuangan memenangkan pemilu dan PDI pimpinan Suryadi tereliminasi dengan sendirinya. Sampai saat ini, partai pimpinan Megawati tetap mengunakan nama PDI Perjuangan dan tidak mengubah nama kembali menjadi PDI. Hal ini bisa dipahami, tetap menggunakan nama PDI Perjuangan akan terus mengingatkan kita akan sejarah perlawanan partai ini pada penguasa.
Kembali pada nasib Persebaya, Kongres Luar Biasa PSSI telah menghasilkan beberapa putusan yang salah satunya adalah unifikasi liga antara ISL dan IPL dengan format 18 Klub ISL + 4 Klub IPL dalam kompetisi tahun 2014. Persebaya yang berlaga di IPL harusnya punya hak untuk berebut tiket kompetisi tahun depan dalam semangat unifikasi liga, akan tetapi menurut petinggi PSSI, Persebaya yang berlaga di IPL tidak mempunyai hak, karena keabsahan diberikan pada 'Persebaya' yang berlaga di Divisi Utama PT. Liga Indonesia.
Dalam pandangan Bonek, putusan PSSI tersebut telah mengabaikan faktor legalitas dan juga sejarah panjang Persebaya. Putusan tersebut dinilai sebagai putusan politis untuk menghapus Persebaya dari konstelasi sepak bola nasional untuk selamanya.
Hal ini bisa dipahami, karena Persebaya dan juga suporternya adalah satu kesatuan yang terus menyuarakan perbaikan sepak bola nasional pada rezim PSSI yang berkuasa. Hal ini merupakan bentuk perlawanan terhadap PSSI yang telah 'mendegradasikan' Persebaya secara paksa di musim 2010. Sehingga mungkin saja, Persebaya dan pendukungnya adalah suara sumbang yang harus 'dihilangkan'.
Bonek tidak bisa menerima putusan PSSI yang memberikan keabsahan pada 'Persebaya' yang berlaga di Divisi Utama PT. Liga Indonesia. Bagaimana tidak, bagi Bonek terbentuknya 'Persebaya' Divisi Utama dinilai merupakan campur tangan dari Rezim PSSI yang saat itu diketuai oleh Nurdin Halid tanpa dukungan dari Klub Internal sebagai pemilik Persebaya. Para pemain pun bukan merupakan binaan asli Persebaya, melainkan pemain Persikubar Kutai Barat yang diboyong ke Surabaya.
Kasarnya Persebaya telah dikloning oleh rezim PSSI yang berkuasa saat itu. Untuk itu, 'Persebaya' yang ada di Divisi Utama tidak mendapatkan legitimasi dari Bonek. Bonek mendukung secara total Persebaya yang berlaga di IPL.
Kita tahu nasib Persebaya hari ini segaris dengan PDI Mega di masa Orde Baru. PSSI tidak mengakui Persebaya yang bermain di IPL. Namun sebagaimana PDIP dulu, sejarah perlawanan tak pernah lekang. Pendukung Persebaya terus menyuarakan pemboikotan jika Persebaya yang berlaga di IPL merger dengan 'Persebaya' yang ada di Divisi Utama. Bagi mereka, melakukan merger berarti mengakui langkah-langkah politik yang diambil PSSI dalam mendzolimi Persebaya.
Sebagian besar Bonek juga menyuarakan sikap yang sama, lebih baik Persebaya berlaga di Divisi terbawah dan akan terus didukung daripada memberikan legitimasi pada 'Persebaya' Divisi Utama. Kecintaan Bonek pada Persebaya tak akan mengalahkan kecintaan mereka pada kebenaran.
Selain gerakan dari Bonek, langkah hukum pun akan diambil oleh pemilik Persebaya dengan mengajukan gugatan pada Badan Arbitrase Keolahragaan Indonesia untuk memperjuangkan hak Persebaya mengikuti kompetisi di 2014.
Kita menunggu, akankah kali ini Persebaya dipaksa kalah dan harus bermain dari Divisi III (divisi terbawah) dengan nama berbeda, yakni Persebaya 1927 sebagaimana PDI pimpinan Megawati pada masa lalu yang berubah nama menjadi PDI Perjuangan? Ataukah perjuangan arek-arek Suroboyo dalam memperjuangkan kebenaran akhirnya berakhir dengan kemenangan.
Toh, meskipun nantinya kalah dan terpaksa berganti nama, Bonek bisa membedakan mana yang sejati. Karena bagaimanapun sejarah tak bisa dibeli, tapi sejarah itu dibuat dan terus melekat. Begitupun juga dengan Persebaya, apapun namanya nanti semua orang pasti tahu bahwa Klub ini adalah SIVB yang berdiri sejak 18 Juni 1927 dan akan terus dicintai oleh pendukungnya.
Yang jelas dalam sejarah, mereka yang punya tekad, boleh kalah, tapi tak pernah akan pernah menyerah.
Pada saat Orde Baru berkuasa, intervensi politik penguasa sangat kuat dalam kehidupan Partai Politik. Partai Politik dan klub sepakbola jelas sangat berbeda. Namun di Indonesia, intervensi terhadap partai dan klub sepakbola oleh tangan-tangan politik bisa serupa.
Kita tentu masih ingat bagaimana Partai Demokrasi Indonesia yang dipimpin Megawati Sukarnoputri tidak diakui oleh pemerintah Orde Baru. Pemerintah Orde Baru hanya mengakui PDI yang diketuai Suryadi. Karena itu, PDI yang dipimpin Megawati tidak berhak untuk ikut kompetisi liga politik bernama pemilu 1997.
Namun PDI yang dipimpin Megawati tidak menyerah dan terus berjuang. Saat itu simpatisan, kader, dan pengurus PDI Megawati kompak untuk memboikot PDI yang dipimpin oleh Suryadi. Bahkan ada gerakan politik yang merupakan inisiatif akar rumput PDI Megawati yang populer dengan sebutan Mega Bintang, dimana para simpatisan PDI Megawati mengalihkan dukungan pada Partai Persatuan Pembangunan. Alhasil, PDI Suryadi tak mendapat dukungan politik yang akhirnya kalah telak pada Pemilu 1997. Semua Massa PDI bisa membedakan mana partai sejati dan mana partai buatan pemerintah.
Tak ada yang abadi, rezim Orde Baru akhirnya runtuh. Dengan dibukanya sistem kepartaian yang lebih terbuka di Pemilu 1999, PDI pimpinan Megawati akhirnya ikut pemilu. Namun, PDI pimpinan Megawati pun terpaksa mengubah nama partainya menjadi PDI Perjuangan untuk membedakan dengan PDI buatan pemerintah. Akhirnya pada Pemilu 1999 PDI Perjuangan memenangkan pemilu dan PDI pimpinan Suryadi tereliminasi dengan sendirinya. Sampai saat ini, partai pimpinan Megawati tetap mengunakan nama PDI Perjuangan dan tidak mengubah nama kembali menjadi PDI. Hal ini bisa dipahami, tetap menggunakan nama PDI Perjuangan akan terus mengingatkan kita akan sejarah perlawanan partai ini pada penguasa.
Kembali pada nasib Persebaya, Kongres Luar Biasa PSSI telah menghasilkan beberapa putusan yang salah satunya adalah unifikasi liga antara ISL dan IPL dengan format 18 Klub ISL + 4 Klub IPL dalam kompetisi tahun 2014. Persebaya yang berlaga di IPL harusnya punya hak untuk berebut tiket kompetisi tahun depan dalam semangat unifikasi liga, akan tetapi menurut petinggi PSSI, Persebaya yang berlaga di IPL tidak mempunyai hak, karena keabsahan diberikan pada 'Persebaya' yang berlaga di Divisi Utama PT. Liga Indonesia.
Dalam pandangan Bonek, putusan PSSI tersebut telah mengabaikan faktor legalitas dan juga sejarah panjang Persebaya. Putusan tersebut dinilai sebagai putusan politis untuk menghapus Persebaya dari konstelasi sepak bola nasional untuk selamanya.
Hal ini bisa dipahami, karena Persebaya dan juga suporternya adalah satu kesatuan yang terus menyuarakan perbaikan sepak bola nasional pada rezim PSSI yang berkuasa. Hal ini merupakan bentuk perlawanan terhadap PSSI yang telah 'mendegradasikan' Persebaya secara paksa di musim 2010. Sehingga mungkin saja, Persebaya dan pendukungnya adalah suara sumbang yang harus 'dihilangkan'.
Bonek tidak bisa menerima putusan PSSI yang memberikan keabsahan pada 'Persebaya' yang berlaga di Divisi Utama PT. Liga Indonesia. Bagaimana tidak, bagi Bonek terbentuknya 'Persebaya' Divisi Utama dinilai merupakan campur tangan dari Rezim PSSI yang saat itu diketuai oleh Nurdin Halid tanpa dukungan dari Klub Internal sebagai pemilik Persebaya. Para pemain pun bukan merupakan binaan asli Persebaya, melainkan pemain Persikubar Kutai Barat yang diboyong ke Surabaya.
Kasarnya Persebaya telah dikloning oleh rezim PSSI yang berkuasa saat itu. Untuk itu, 'Persebaya' yang ada di Divisi Utama tidak mendapatkan legitimasi dari Bonek. Bonek mendukung secara total Persebaya yang berlaga di IPL.
Kita tahu nasib Persebaya hari ini segaris dengan PDI Mega di masa Orde Baru. PSSI tidak mengakui Persebaya yang bermain di IPL. Namun sebagaimana PDIP dulu, sejarah perlawanan tak pernah lekang. Pendukung Persebaya terus menyuarakan pemboikotan jika Persebaya yang berlaga di IPL merger dengan 'Persebaya' yang ada di Divisi Utama. Bagi mereka, melakukan merger berarti mengakui langkah-langkah politik yang diambil PSSI dalam mendzolimi Persebaya.
Sebagian besar Bonek juga menyuarakan sikap yang sama, lebih baik Persebaya berlaga di Divisi terbawah dan akan terus didukung daripada memberikan legitimasi pada 'Persebaya' Divisi Utama. Kecintaan Bonek pada Persebaya tak akan mengalahkan kecintaan mereka pada kebenaran.
Selain gerakan dari Bonek, langkah hukum pun akan diambil oleh pemilik Persebaya dengan mengajukan gugatan pada Badan Arbitrase Keolahragaan Indonesia untuk memperjuangkan hak Persebaya mengikuti kompetisi di 2014.
Kita menunggu, akankah kali ini Persebaya dipaksa kalah dan harus bermain dari Divisi III (divisi terbawah) dengan nama berbeda, yakni Persebaya 1927 sebagaimana PDI pimpinan Megawati pada masa lalu yang berubah nama menjadi PDI Perjuangan? Ataukah perjuangan arek-arek Suroboyo dalam memperjuangkan kebenaran akhirnya berakhir dengan kemenangan.
Toh, meskipun nantinya kalah dan terpaksa berganti nama, Bonek bisa membedakan mana yang sejati. Karena bagaimanapun sejarah tak bisa dibeli, tapi sejarah itu dibuat dan terus melekat. Begitupun juga dengan Persebaya, apapun namanya nanti semua orang pasti tahu bahwa Klub ini adalah SIVB yang berdiri sejak 18 Juni 1927 dan akan terus dicintai oleh pendukungnya.
Yang jelas dalam sejarah, mereka yang punya tekad, boleh kalah, tapi tak pernah akan pernah menyerah.
@andhi667
Langganan:
Komentar (Atom)