Tak terasa, tahun telah berganti. Petasan, tiupan terompet, bau sate, dan tragedi mewarnai pergantian tahun ini. Ya, 2014 telah berakhir, dan 2015 akan kita lalui.
Bagi sebagian Bonek, pergantian tahun berarti bukti akan kesetiaan. Kesetiaan akan apa? Kesetiaan akan cinta. Lalu, apakah cinta selalu membutuhkan kesetiaan? Jawabannya relatif bagi setiap orang. Tapi bagi Bonek, kesetiaan adalah perwujudan tulus dari cinta. Cinta pada apa? Tentu saja cinta pada Persebaya (1927).
Di tahun 2015 ini, cobaan akan kesetiaan itu, tentu akan sulit. Bagaimana tidak, Persebaya (1927) telah mati suri dan entah kapan akan bangkit lagi. Di sisi yang lain, klub dengan nama yang sama namun dengn spirit yang tak serupa, terus membenahi diri, dan merekrut mantan pemain Persebaya (1927). Belum lagi, akan hinaan dan cacian dari mereka yang tak menyukai kesetiaan ini.
Meskipuh begitu, saya yakin masih banyak Bonek yang menunjukkan kesetiaan sampai dengan masa yang akan datang. Waktu telah membuktikan, bertahun-tahun Bonek telah menunjukkan rasa cintanya. Begitu agung, karena yang mereka cintai sekarang telah tiada. Namun, kecintaan itu tidak pudar, dan sekarang berwujud sebagai kesetiaan.
Rezim PSSI mungkin tak akan tumbang, tapi mereka akan selalu bergetar ketika mendengar tentang perlawanan. Di 2015 ini, genap sudah 5 (lima) tahun Bonek melawan. Sebuah waktu yang lama, dan sudah banyak menghabiskan materi, tenaga dan air mata. Ujung dari perlawanan itu, memang belum terlihat, tapi Bonek patut berbangga, karena perlawanan pada ketidakadilan dan pendzoliman tidak semua bisa melakukan.
Karena itu, di awal 2015 ini mari kita rayakan Perlawanan!!!
Jakarta, 00.15 WIB, 1 Januari 2015.
@andhi667
Tidak ada komentar:
Posting Komentar