Dalam beberapa hari ini Bonek kembali menjadi sorotan di hampir
seluruh media informasi, mulai dari media elektronik hingga media cetak.
Media tersebut, ramai memberitakan tragedi Lamongan yang ‘katanya’
dipicu oleh Bonek. Yang tentu saja, seluruh masyarakat yang melihat atau
membaca berita tersebut, langsung menghakimi Bonek adalah biang
kerusuhan.
Saya kira Bonek-pun tidak berkehendak akan
timbul tragedi tersebut. Keberangkatan Bonek ke Tangerang murni akan
rasa cinta pada Persebaya, Bonek bukanlah suporter yang harus
dikoordinir untuk melakukan lawatan away, kecintaan terhadap
Persebaya-lah yang mendorong tiap individu itu datang dan akhirnya
berkumpul dalam serangkaian kereta menuju Jakarta. Begitu indah, begitu
egaliter karena tak ada yang memimpin atau dipimpin, semuanya karena
panggilan hati. Apalagi lawatan ke Tangerang sudah cukup lama tidak
dilakukan Bonek (Seingat Penulis terakhir tahun 2003), yang membuat
ribuan Bonek terkonsentrasi menuju Tangerang. Mungkin kalopun tragedi
Lamongan ini terjadi, yang patut diketahui oleh public adalah ini murni
dari perseteruan antara LA Mania dan Bonek yang sudah begitu lama
terpendam. Bukan Warga melawan Bonek.
Entah siapa yang
memulai, faktanya memang telah ada 2 korban dari Suporter LA Mania
(bukan warga biasa). Tapi yang patut menjadi catatan adalah hampir
setiap tahun dan waktu ketika Bonek mengadakan tour melewati Jalur Utara
yang tentu saja melewati Kota Lamongan selalu terjadi sweeping oleh LA
Mania pada kereta api yang ditumpangi Bonek, dan kejadian itu terus
berulang dari waktu ke waktu. Yang jadi pertanyaan adalah, apa hak LA
Mania mensweeping dan menurunkan Bonek yang hendak melakukan tour ke
luar kota. Tidak ada bukti jika Bonek yang disweeping dan diturunkan
adalah pelaku pengrusakan di Lamongan, jika pun terbukti hal tersebut
adalah wewenang dari Kepolisian. Sangat disayangkan Kepolisian pun
seakan tutup mata terhadap kejadian tersebut, harusnya jika memang
melakukan Razia cukup dari aparat Kepolisian saja tanpa melibatkan warga
sipil karena hal tersebut malah berpotensi memicu insiden bentrokan dan
kebencian. Jadi semua ini sebenarnya adalah rangkaian peristiwa, yang
terus berakumulasi dan puncaknya pada kejadian beberapa hari yang lalu.
Apapun
alasannya, sebenarnya aksi kekerasan yang dilakukan oleh Bonek tersebut
tidak bisa dibenarkan. Aksi kekerasan tetaplah sebuah tindakan Kriminal
yang mempunyai konsekuensi di mata Hukum. Aksi kekerasan hanya menodai
upaya keras Bonek untuk mengubah citranya yang negatif selama ini,
apalagi media massa begitu sensitif terhadap pemberitaan Bonek. Dan yang
dikhawatirkan terjadi, media massa dengan segera memberitakan bahwa
Bonek melakukan tindakan brutal dalam perjalanannya menuju Tangerang,
tanpa mengindahkan etika jurnalisme yang harusnya melihat dari dua sisi
yang berimbang dan tidak bias dalam pemberitaan. Tentu saja dari
pemberitaan tersebut, opini public langsung tergiring bahwa Bonek telah
berbuat onar di Lamongan, dan hal ini memicu warga yang tak tau apa-apa
untuk ikut ‘menyambut’ Bonek yang pulang dari Tangerang.
Dari
pemberitaan media massa yang terus menyudutkan Bonek, menjadikan Bonek
menjadi terdakwa di Negeri ini, tetapi sayangnya Bonek adalah terdakwa
tanpa pledoi. Stigmatisasi negatif masyarakat kepada Bonek semakin
menguat.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa paradigma
masyarakat umumnya menganggap Bonek adalah “Biang Kerusuhan”, hal ini
juga tak lepas dari stigmatisasi Media Informasi yang mencitrakan hal
tersebut. Memang Bonek pernah berbuat rusuh, tetapi yang perlu diingat
adalah kerusuhan dalam sepak bola Indonesia tidak hanya dimonopoli oleh
Bonek. Hampir seluruh elemen Suporter di Indonesia pernah berbuat rusuh,
bahkan oleh kelompok suporter yang dianggap terbaik sekalipun. Entah
itu dalam bentuk terkecil seperti melempar benda-benda keras ke lapangan
sampai dengan bentrokan antar suporter yang melibatkan massa dalam
jumlah besar. Dan ironisnya, sekecil apapun tindakan bonek, hal ini
langsung menjadi santapan empuk media dalam pemberitaan.
Media
massa pun sepertinya menikmati nuansa Bonek yang penuh dengan kekerasan
daripada melihat Bonek dari sisi yang lebih santun. Kemajuan yang
diperlihatkan Bonek dalam pendewasaan kelihatannya tidak menarik bagi
media yang memang lebih menyukai berita yang sensasional. “Bad news is
good news” tetap menjadi tolok ukur media massa. Spirit sportivitas dan
penerimaan terhadap hasil akhir yang ditunjukkan bonek pun tidak menarik
bagi media massa. Di musim lalu, dua kali kekalahan di kandang sendiri,
dari Persipura Jayapura dan Persik Kediri dan tidak terjadi kerusuhan
apapun merupakan kemajuan yang patut dipuji dari Bonek.
Sangat
patut disayangkan, stigmatisasi dan kriminalisasi terhadap Bonek yang
dilakukan media informasi itulah yang sebenarnya juga semakin
memperburuk attitude Bonek. Bagi bonek muda performa penuh kekerasan dan
brutalisme dianggap sebagai ‘kebenaran’, dan bagi Bonek senior performa
penuh kesantunan yang pernah ditunjukkan seolah lenyap begitu saja oleh
pemberitaan media, hingga mereka berpikir berbuat baik atau tidak-pun
toh media dan masyarakat tetap mengecap Bonek sebagai “bad boys”.
Seolah-olah Bonek memang telah menjadi korban dari sebuah teori
strukturalisme yang membutuhkan kelompok berpredikat 'bad boys' (anak
nakal) untuk menentukan kelompok berpredikat 'good boys' (anak baik).
Dan ironisnya, Bonek-lah yang ketiban sampur untuk diberi predikat
sebagai “bad boys”.
Stigmatisasi dari media juga yang
membuat banyak Bonek menjadi antipati pada Media. Tapi saya berharap,
tak usahlah Bonek memusuhi media, tapi tunjukkan pada semua Media
Informasi bahwa Bonek adalah supporter yang santun dan selalu berupaya,
mempunyai itikad dan keinginan untuk menjadi lebih baik. Apa yang sudah
dicapai, dengan segala kekurangannya. Bonek tak pernah berharap untuk
diberi predikat terbaik, menjadi lebih baik itu lebih dari cukup.
Mari
jadikan Tragedi ini, sebagai sebuah pembelajaran. Bahwa semangat Bonek
yang egaliter, yang datang karena kecintaan terhadap Persebaya ternyata
juga mempunyai sedikit kelemahan. Kelemahan itu ada pada koordinasi.
Jangan sampai, karena ulah beberapa orang semuanya ikut terlibat dan
merasakan getahnya.
Memang sudah saatnya Bonek menata
ulang spiritnya, sudah waktunya Bonek menjadi satu entitas tunggal dalam
satu payung organisasi. Satu payung lebih mempermudah dalam hal
koordinasi, konsolidasi, edukasi, bahkan mungkin advokasi pada Bonek
yang tertimpa masalah hukum. Tour away juga lebih bisa tertata, sehingga
ekses-ekses negatif yang berpotensi muncul saat tour bisa
diminimalisir. Manajemen Klub Persebaya pun harusnya juga mulai perduli
dengan supporter, karena bagaimanapun juga baik dan buruknya supporter
juga turut berperan dalam baik dan buruknya nama Klub. Suporter adalah
spirit, jangan hanya pandang supporter sebagai konsumen belaka, tetapi
rangkullah supporter sebagai keluarga.
STOP KEKERASAN DAN DAMAILAH SUPORTER INDONESIA
Pernah dimuat di Tabloid Bola
@andhi667
Tidak ada komentar:
Posting Komentar